Made Wianta berpameran solo dibarengi peluncuran biografi seni yang jujur isinya: Wianta apa adanya.
Seniman yang lahir pada 1949 di Tabanan, Bali, ini memang salah satu perupa gaek Indonesia yang diakui di dunia internasional. Rekam prestasinya bisa kita peroleh dari, misalnya, penghargaan pada 1997 sebagai The Most Admired Man of Decade dari American Biographical Institute, USA. Dalam pameran solo di Galeri Nasional Indonesia Desember lalu, perupa yang pernah memperoleh Honorary Professor Academic International ‘Greci Marino’ Italy sempat “merusak” wajah Galeri Nasional. Paras muka gedung ditutup plastik raksasa berwarna oranye yang terang benderang. Kita menjadi ingat pada seniman Christo yang suka menutup gedung dan jembatan bahkan pulau.
Seniman lukis, drawing, pertujukan dan instalasi serta video yang sering membuat sensasi ini memiliki pergaulan sangat luwes dengan dunia seni teater (berbagai kerja sama dengan penulis naskah teater dan pekerja teater), seni sastra (menerbitkan buku-buku puisi), seni musik dan seni tari (berbagai aktifitas kolosal performing artnya yang melibatkan banyak pekerja kreatif di wilayah tari dan musik) dan kalangan intelektual dan budayawan.
Ketahanan untuk menggagas ide-ide orisinal, keluwesan pergaulan, serta kemampuan Wianta mengawinkan ekspresi seninya yang bersinggungan dengan wacana budaya mutakhir ataupun masalah sosial menyeruak di luar bingkai seni rupa dan menarik perhatian khalayak luas.
Robert C Morgan, sejarawan seni dari New York University, menulis buku tentang Wianta, Wild Dogs in Bali (SNP edition, Singapore, 2005). Karya maesenasnya, Art and Peace, art performance kolosal 1997, melibatkan 2000 penari dan sebuah helikopter dan menjadi perhatian dunia seni internasional.
Kita tentu masih ingat seni instalasi Wianta Song of Stone (2003) di Garuda Wisnu Kencana, Bali, yang disponsori oleh Unesco dan mengundang futurolog Amerika Alvin Toffler, sejarawan seni Robert C. Morgan dan kritikus seni Jean Coesteau untuk kerja bareng dalam konteks perdamaian dunia via proyek seni rupa.
Di tahun yang sama, Wianta menghentak dan merintih dengan karya Dream Land, sebuah refleksi keprihatinan atas peristiwa bom Bali. Ia meresponnya dengan seni performance melukis kanvas dengan darah sapi sebagai simbol kultural Hindu membersihkan diri dari petaka-musibah, menyerupai sebuah requiem yang mistis di Bali.
Peluncuran biografi seni Wianta yang disponsori oleh O House Gallery berlangsung dengan judul “Ruang Di Bawah Telinga”. Bertepatan itu pula, Wianta menggelar pameran lukisan dengan dukungan Galeri Nasional Indonesia, yang dianggapnya sebagai respon pembacaan kembali karya drawing-drawingnya pada era pasca-Karangasem dengan judul Spotlight.
Buku ini semacam rangkaian fragmen diskusi dua orang, penulis Afrizal Malna dan Wianta, yang menekankan bisikan-bisikan batinnya melalui wawancara di beberapa tempat seperti pusat perbelanjaan Wang Jifung, Beijing. Simak tuturan pengalamannya ketika bertemu dengan kurator ternama Achille Bonito Oliva dalam 50th Venezia Biennale, Italy (2003) dan selanjutnya di rumah Wianta di Bali pada 2009.
Yang menarik adalah awal pembukaan buku di mana Wianta mengaku sangat terpengaruh oleh kritikus 1970an Oesman Effendi dengan pernyataanya yang fenomenal: Seni Rupa Indonesia Tidak Ada. Penjelasannya: ‘Gerusan’ berbagai paradigma seni rupa modern barat dan pengakuan ‘global art’, selain rapuhnya infrastruktur dan suprastruktur seni rupa Indonesia sendiri.
Bagi Wianta, periode 1960-1970 adalah sebuah era rintisan sekaligus abadi, yang tak terpengaruh kredo adanya Gerakan Seni Rupa Baru 1970-1980an, atau gerakan seni 2000an. Menurutnya memang tak ada “perubahan radikal” dari akar seni lokalitas Indonesia. Kekritisan Wianta menampak dalam pameran solonya berjudul “Spotlight”. Ia merekam dan meninjau ulang berbagai catatan karya drawingnya sejak 1980an (setelah periode Karangasem, tepatnya ketika Wianta pindah rumah dari Karangasem ke Denpasar) dengan merubahnya menjadi lukisan-lukisan berwarna mencolok mata. Menurut Wianta, pameran ini menjelaskan bagaimana manusia telah menjadi “bertubuh mati” yang diibaratkan sebagai hasil dari berbagai serangan “komoditas budaya” dari luar dirinya.
Wianta sekarang telah dianggap bebas dari kungkungan bentuk-bentuk di luar mistik sekaligus logika. Lukisannya bisa dimaknai apa saja, tidak merujuk lagi pada definisi apa pun—bisa binatang, manusia, figur separuh binatang dan manusia, atau ingatan tertentu apa pun yang melintas sekejap dan tak terikat pada ruang dan waktu manapun.
0 komentar:
Posting Komentar